Pecinta Benda Pintar


Adakah ini berhenti?
Sampai kapan?
Berapa lamakah?

Terpikir selalu
Zona nyaman yang dulu pernah ku alami ada di depan mata
Langakah ku akan sampai disana
Tapi kapan?

Terpikir selalu
Untuk menyerah tengah jalan
Namun kuyakin, berlian ada di depan mata
Tapi kapan?
Sampai kapan tubuh ini berjuang dengan tenaga sisa?

Dan aku sadar
Zona itu tak akan pernah kembali
Zona dimana benda pintar itu belum lahir
Zona dimana sosial yg nyata masih menang dari media sosial

Memang hati harus bertahan
Yang katanya teman dekat pun, lebih mencintai benda pintar itu
Lebih nyaman mereka dekatnya
Dripada menjawab pertanyaan ku
Yg perlu ku sebut 2 kali
Karna mereka bersibuk diri dengannya

Mungkin salahku yg kalah pintar dan canggih
Aku tak bisa bernyanyi, sehingga mereka asik mendengar lagu darinya
Aku tak cukup berilmu, sehingga mereka mencari tahu jawaban lewatnya
Aku tak cukup menghibur
Aku membosankan
Dan apalah aku

Aku sadar itu
Zaman telah berubah
Maafkan aku
Dalam hati terdalam ini
Cukup tinggalkan benda pintar itu
Hargailah diriku
Yg mungkin bagi kalian, harga benda pintar itu lebih mahal
Sehingga aku merasa ditinggalkan

Aku hanya meminta
Terimalah kekurangan ini
Dan nikmatilah kebersamaan

27.12.15

Comments

Popular posts from this blog

Negeri Para Pengkhianat

Inikah yang Namanya Indah?

Manusia yang Begitu Rapuh